Betapa inginnya kami agar ummat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemulyaan dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa dihati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan. Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaatpun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian. (Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna)
Tulisan ini sungguh menginspirasi saya. Saya bisa merasakan dalam tulisan itu terdapat keikhlasan, kesungguhan, idealisme, dan kepedulian yang mendalam.
Sepertinya terasa syahdu terdengar ditelinga, tetapi saya yakin tulisan ini adalah sebuah beban yang tidak ringan bagi orang-orang yang menjadikannya terwujud nyata. Hasan Al Banna dan Ikhwanul Muslimun pastinya mengetahui beban berat ini. “Allah begitu besar murkanya bagi orang-orang yang tidak sesuai perkataan dan perbuatannya”. Dan sebuah apresiasi dari saya atas pilihan berat yang mereka emban.
Saya berharap, Indonesia dapat mewarisi keikhlasan serupa dihati rakyatnya, kesungguhan yang kuat dihati para pemimpinnya, idealisme yang kokoh ditangan para ulamanya, dan kepedulian terhadap sesama bagi bangsa ini.
Comments are closed.