Kira-kira seminggu sebelum tanggal 11 Desember 2010, mas Ribut Wijoto menghubungi saya lewat SMS. Beliau adalah salah satu pengurus Dewan Kesenian Surabaya, yang juga ternyata kakak kelas saya di Sastra Unair. Mas Ribut bilang minta cerpen saya dua. Rencananya akan diterbitkan untuk acara Halte Sastra tanggal 11 Desember itu. Saya keheranan, karena selama saya adalah pemula dipenulisan cerpen. Saya kebanyakan hanya sebagai penikmat saja. Tapi katanya buku ini adalah kumpulan dari cerpenis-cerpenis Surabaya yang ikut menggiatkan kesusastraan di Surabaya. Mungkin maksudnya karena saya di FLP Surabaya. Saya iyakan, dan saya berikan dua cerpen saya.
Dalam buku ini ada tiga penulis lain selain saya-yang pastinya lebih senior dari saya. Yaitu Dadang Ari Murtono (Aku Mendengar Suara Kembang yang Dijatuhkan), Antok Serean (Air dan Api), M Anshor Sja’roni (Barindah) dan saya (Hanya Ada di Indonesia).
Kata Pengantar Ketua Umum Dewan Kesenian Surabaya
Siapakah yang pantas disebut sastrawan Surabaya? Pertanyaan ini tidak terlalu penting dijawab. Sayangnya, pertanyaan yang tidak terlalu penting ini kerap mengundang soal. Kerap dipertanyakan. Maka butuh jawaban.
Kalau mengacu pada ajang Porprov (olahraga), sastrawan Surabaya adalah penulis karya sastra yang memiliki KTP Surabaya. Kalau mengacu pada identitas kampung halaman, sastrawan Surabaya harus kelahiran Surabaya. Meski telah lama berada di Jakarta dan ber-KTP Jakarta, dia tetap layak disebut sastrawan Surabaya.
Di luar dua kategori tersebut, ada kalangan lain yang patut dihormati. Mereka adalah orang-orang yang tidak lahir di Surabaya; tetapi, mereka turut berjibaku mengembangkan kondusivitas kesusastraan di Surabaya. Mereka, secara akal sehat, kalangan terakhir ini patut disebut sastrawan Surabaya. Sebab, mereka sering berproses kreatif di Surabaya dan memberi kontribusi bagi arah tuju sastra di Surabaya.
Kali ini, Halte Sastra menampilkan empat sastrawan yang lahir bukan di Surabaya, namun sangat berkontribusi terhadap sastra di Surabaya. Mereka adalah Dadang Ari Murtono, Antok Serean, M Anshor Sja’roni, dan Aferu Fajar. Masing-masing sastrawan menyumbangkan 1 judul cerita pendek (cerpen).
Dewan Kesenian Surabaya mengucapkan selamat kepada keempat sastrawan. DKS juga mengucapkan terima kasih kepada para sastrawan lain yang selalu setia mendukung acara Halte Sastra. Semoga kesusastraan Surabaya semakin sehat dan berkembang.
Sabrot D Malioboro
Ketua Umum DKS
pengen jadi salah satu sastrawan yg lahir dari kota surabaya
Posted by enorie valendara | April 17, 2011, 9:00 amwah, ndak mungkin terwujud deh… T__T wong lahirku di pare koq…
Posted by veroetoejoeh | April 18, 2011, 6:33 am