archives

Aferu Fajar

Kawan, terima kasih telah mampir dan membaca tulisan-tulisan di blog saya. Salam kenal dari saya. Terima kasih...
Aferu Fajar has written 59 posts for Veroetoejoeh's

Bertemu itu Menyenangkan ; Catatan #5TahunTP

Pekan terakhir di Maret 2016, t0ekangpoto melewati tahun ke-5 nya. Sebagaimana biasanya, ada event untuk menandakan terbentuknya komunitas ini dan sekaligus kesempatan untuk temu-sua anggotanya yang biasanya hanya berjumpa lewat media sosial. Dan tahun ini, Banyuwangi menjadi destinasi pertemuan.

Memang tidak seluruh TPers (sebutan bagi anggota tOekangpoto) dapat hadir dalam acara ini. Tapi kesan keluarga tetap terasa, sebagaimana event-event TP lainnya. Kereta api, pesawat dan bis mengantarkan TPers dari berbagai daerah di Indonesia ke kabupaten tertimur di pulau Jawa ini. Lebih dari 50 orang hadir. Dari balita hingga hampir lansia (Upss… ahahaii). Bersama keluarga atau jomblo yang sedang penantian (^^V).

Setidaknya telah 4 kali sebelum ini, TP membuat event Milad. Yang pertama di Jogja, dan selanjutnya hingga aniversary ke 3 berlokasi disana, kemudian di Jawa Tengah, Karang Anyar. Saya termasuk yang baru kali ini dapat berkumpul dengan teman-teman TPers di event Milad. Dan, rasanya begitu menyenangkan. Continue reading

Menyambut Nyepi di Kampung Halaman. Pare, Kediri.

Meski sebenarnya bukan hari libur yang panjang, namun hari Senin dan Selasa yang dihimpit dua tanggal merah, Ahad dan Rabunya hari raya Nyepi, serasa menggoda untuk agak lama mengunjungi orang tua, hehehe… Hitung-hitung berbakti kepada orang tua. Soalnya sudah lama tidak pulang kampung. Apalagi adik yang di Jakarta, bersama keluarga, akan pulang juga. Jadi sekalian kumpul-kumpul.

Nah, menjelang hari raya Nyepi, ternyata ada upacara yang diselenggarakan organisasi Hindu se-Kabupaten Kediri. Acaranya berlangsung di kota Pare. Mengarak Ogoh-ogoh hingga pembakarannya. Kesempatan ini, tentunya sayang sekali jika terlewatkan.. Diacara itu, saya bisa melihat peribadatan yang dilakukan umat Hindu. Alhamdulillah, sempat juga mengabadikan beberapa momen dan ritualnya. Namun sayang sekali, saya tidak sempat melihat pembakaran ogoh-ogoh. Karena waktunya yang terlalu malam dan hujan.

Menjadi Keluarga tOekangpoto

DSCF8254

Bli Khoirul, satu2nya perwakilan dari frame Bali

DSCF8230

Serius bangeet… ^^

Akhir Mei 2015 yang lalu, kami seperti dipertemukan dalam keluarga baru. Keluarga yang telah lama kami rindukan. Walau beberapa diantara kami baru pertama kalinya bertemu. Tiada sua wajah, tiada sua berita. Namun, nuansa keakraban seperti telah lama terjalin.

Banyuwangi adalah persinggahan helat tOekangpoto (TP) Wilayah Jawa Timur yang pertama. Sejak terbentuknya kepengurusan TP di Solo beberapa bulan sebelumnya, TP mendorong agar kepengurusan diperluas hingga daerah setingkat kabupaten. Diperhelatan ini, TP Wilayah Jawa Timur sekaligus mengukuhkan frame se-Jawa Timur. Diantaranya adalah TP frame Surabaya, TP frame Sidoarjo, TP frame Gresik, TP frame Banyuwangi, TP frame Madiun Raya, dan TP frame Malang.

Pengukuhan TP se-Wilayah Jawa Timur dilakukan di Pulau Merah, Banyuwangi. Setelah sebelumnya kami mengunjungi berbagai tempat yang luar biasa di Banyuwangi.

DSCF8259

Apa yg dilakukannya dengan Kelapa itu??

Jejak pertama kami tinggalkan di Pantai paling timur pulau Jawa, Pantai Boom. Tentu saja yang kami harapkan adalah Matahari Pertama Di Pulau Jawa. Yeeee… Dan hujan menerima kami dengan begitu bersahabatnya. Sehingga kami bisa menikmati kopi terlebih dahulu, bercengkrama dengan penjual diwarung, sebelum akhirnya bersua dengan sang matahari.

jejak kedua, adalah Baluran. Setelah menikmati hidangan sarapan yang begitu fenomenal khas Banyuwangi, Rawon Pecel, savana terhampar dan hewan-hewan dialam bebas siap untuk disapa. Sepertinya memang tidak cukup satu hari menikmati Baluran. Tapi lumayan, untuk mengekplorasi demi kunjungan berikutnya.

IMG-20150601-WA0001

Bersama bupati Banyuwangi dan Wagub Jatim

Yang tidak kalah berkesan adalah kami bersempat diterima oleh bupati Banyuwangi, Azwar Anas, dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Gus Ipul. Bahkan kami menginap dikediaman Bapak bupati Anas.

DSCF8661

Pengukuhan

Tentu saja kami tidak boleh melewatkan tempat yang fenomenal di Banyuwangi, Kawah Ijen. Dan lagi-lagi, guyuran hujan begitu akrab menemani kami, bahkan sejak malam sebelum pendakian, hingga mengantar kami turun dikaki kawah. Disela-selanya, bersyukur kami dapat menikmati sedikit matahari cerah dipuncak kawah. Beberapa teman bahkan dapat mengabadikan kawah, gunung berselimut awan, ataupun sekedar berfoto selvi. It’s oke. Sebagaimana slogan kondang TP, silaturahim adalah yang utama, foto bagus adalah bonus.

Slogan tersebut, betul-betul kami rasakan. Cuaca yang tidak mendukung, sebagaimana harapan kami, membuat kami menjadi lebih dekat satu dengan yang lain. Saling menolong, saling memahami. Itulah anugerah.

DSCF8251

Kayaknya seneng banget liat hasilnya..

Terakhir, kami daratkan jejak kami di Pulau Merah. Disanalah, Pengukuhan pengurus TP Frame se-Jawa Timur dilakukan. Banyak harapan. Banyak tanggungjawab. Hanya Allah yang tahu setiap hati-hati kami.

 

Semoga TP di Jawa Timur bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebagaimana yang ikrarkan saat pertama kali TP terbentuk di Merapi, beberapa tahun silam. Peduli, menginspirasi.

 

 

 

Kemana Mainan Anak-Anak??

Adakah yIMG_20150426_110457ang pernah bermain mainan seperti ini??

Saya coba tanyakan lewat akun facebook saya, adakah yang mengetahui nama permainan ini. Bersyukur bahwa masih banyak yang bisa memberitahu nama permainan ini. Ada yang menyebutnya gatrik, pathil lele, enthik, benthek, dan beberapa nama lainnya yang saya juga baru saja mendengarnya.

Di jaman saya masih kecil, (kesannya udah tua kali ya?? :D) ini adalah salah satu permainan favorit kita. Didepan rumah ada lapangan yang cukup luas, dengan beberapa pohon besar yang berdiri membuat beberapa tempat menjadi teduh. Laki atau perempuan boleh ikutan. Alat-alat yang dibutuhkan sederhana sekali. Dua buah kayu, bisa juga bambu, sebagai pemukul dan “anakan”nya. Beberapa tempat menggunakan batu bata sebagai pondasinya, yang lainnya dengan cara menggali tanah.

Ada teman yang berkomentar di akun facebook saya, permainan ini bisa mengakibatkan cidera. Iya, memang permainan ini ada potensi melukai. Bayangkan jika kayu anakan yang dipukul kemudian melayang mengenai dahi? Tentu bisa membuat luka, bahkan cukup serius. Tapi kalau dipikir-pikir, permainan anak jaman dahulu bukankah seperti itu? (Beberapa bekas luka di dengkul dan sikut yang sampai sekarang tidak kunjung hilang, adalah saksi hidupnya… hahaha :D)

Terus terang, saya cukup rindu dengan permainan anak dahulu. Sepertinya, dengan usia saya yang tidak lagi anak-anak, masih ingin merasakan lagi permainan ini. Kita terbiasa setiap sore hari bermain dilapangan. (Mungkin sekarang sulit mencari lapangan ya??) Permainan apapun itu. berkumpullah anak-anak yang ada didaerah situ. Jika matahari mulai tenggelam, dan mulai gelap, maka itu pertanda permainan usai. Tidak jarang, saat pulang kita memperoleh luka di beberapa bagian tubuh. Saat dimushala, shalat maghrib, kita akan bertemu lagi dan membicarakan permainan sore tadi. Buat saya itu menyenangkan. Ada olahraga, organisasi dan komunikasi.

Namun entah kenapa dengan saat ini. Suatu kali, saya sempat bertanya kepada beberapa anak-anak diperkampungan Surabaya, ternyata banyak anak-anak yang tidak lagi mengetahui permainan semacam pathil lele ini. Entah bagaimana didaerah-daerah lainnya. Saya perkenalkan permainan ini ke mereka, dan antusiasnya luar biasa. Mereka sebenarnya menyukainya, tapi mengapa tidak banyak yang memainkannya.

Apakah permainan anak-anak sudah beralih? Kemana ya “mainan anak-anak yang itu”?

“BUKAN TENTANG UANG PARTAI”
Oleh : Cahyadi Takariawan
Rasanya berdosa banget jika kita begitu percaya opini media, dan mengabaikan realitas kehidupan para
ikhwah yang sedemikian tulus bekerja dalam jamaah dan sangat sepi dari publisitas. Kita disibukkan oleh
opini yang dikembangkan media, dan kita tidak tertarik mengetahui realitas-realitas denyut dakwah di
berbagai wilayah dan wajihah.
Adakah di antara kita yang mengetahui dengan detail kinerja serta prestasi ikhwah di MITI? Mungkin kita
hanya mengenal Dr. Warsito dengan penyembuhan kankernya saja, namun tidak banyak mengetahui
kiprah ikhwah di bidang teknologi ini.
Luar biasa keseriusan dan usaha para kader yang “pinter-pinter” untuk berkhidmat melalui jalur ilmu
pengetahuan dan teknologi. Namun mereka “tidak terkenal” karena pekerjaan bidang ini sepi dari
publisitas dan tidak “menggoda”. Sang Maestro teknologi, Kang Harna Surapranata bahkan sudah
banyak dilupakan kader sendiri, karena sudah tidak menjadi menteri.
Kader tidak mengerti kiprah Kang Harna dan para doktor dan profesor dalam upaya serius mereka
menggeluti dunia teknologi. Kader hanya mengerti Yuro menang di Karanganyar dan Tamsil Linrung kalah
di Kota Makassar.
Kisah kemenangan politik sangat heroik, namun kisah prestasi pendidikan, kesehatan, teknologi, dan seni
budaya sangatlah sepi dari tepuk tangan ikhwah.
Maksud saya, dakwah ini bukan melulu soal politik, uang, perempuan, kekuasaan, dan sekitar itu.
Dakwah ini adalah sebuah mahakarya syamilah mutakamilah.
Menyempitkan pembahasan dakwah hanya dengan melihat pilkada, pileg, pilpres dan politik praktis
lainnya, akan membutakan mata kita dari melihat keagungan dan kesemestaan mahakarya dakwah.
Barusan kita dihadiahi prestasi Pustakawan DIY bahkan juara Nasional bidang Perpustakaan. Kita juga
dihadiahi prestasi Notaris DIY dalam puncak kepemimpinan Ikatan Notaris Indonesia. Namanya
Mohammad Ichwanul Muslimin, SH. Serta segudang prestasi kader dakwah lainnya di bidang masing-
masing, yang tidak menimbulkan heroisme serta gegap gempita yang membahana di majelis liqa, mabit
dan nadwah.
Ikhwah senang mendengar berita kemenangan politik, dan mendengarkan sepenuh antusias. Namun
berita gembira di berbagai bidang lainnya, cenderung disikapi dengan “sekedar mengetahui”. Seakan
mereka bukan pahlawan, walau memang tidak ingin disebut sebagai pahlawan.
Kisah-kisah heroisme dakwah di pelosok-pelosok daerah, kisah-kisah para murabbi dan

Follow on Twitter

%d bloggers like this: