archives

Prosa

This category contains 6 posts

(re)Generasi (ke)Pahlawan(an)

Assalamu’alaikum wr wb

Kawan, 10 November adalah hari spesial bagi bangsa Indonesia. Tanggal tersebut adalah momentum peringatan hari Pahlawan. Terus terang ada “uneg-uneg” yang ingin saya sampaikan tentang pahlawan. Orang-orang yang secara pribadi maupun umumnya bangsa ini, memiliki jasa yang tidak terkira.

Mungkin mereka tidak ada harganya saat ini, tapi mengenang mereka adalah sesuatu yang tidak ternilai. Berikut “uneg-uneg” sekalligus tulisan saya di majalah kotakamal Indonesia, lembaga kemanusiaan Nasional yang diberi nama AMAL.

Pahlawan(Re)generasi (ke)Pahlawan(an)

Pahlawan sering kali muncul dalam kondisi sulit yang tiada seorangpun mau mengambil peran untuk menyelesaikannya. Pahlawan akan mengorbankan “kenyamanan”nya untuk bisa mendahulukan memberi kebaikan kepada orang lain. Pahlawan teruji dengan keberaniannya mengambil posisi yang tidak mudah. Sulit melogikakan apa yang dicari oleh pahlawan dengan kondisi semacam itu. Namun, itulah pahlawan. Kepuasannya hanya tercukupi dengan senyum bahagia orang-orang disekelilingnya.

Sejarah akan mengabadikan nama sang pahlawan sepanjang masa. Keberanian sang pahlawan akan selalu diingat oleh anak-anak sejarah berikutnya. Pengorbanannya akan menjadi inspirasi dari generasi ke generasi. Akan tetapi hasil dari kepahlawanan tidak serta merta kekal abadi. Saat sang pahlawan diantar ke sisi Tuhannya, zaman belum tentu sanggup menerima semangat kepahlawanannya. Semangat kepahlawanan akan menjadi labil. Semangat kepahlawanan itu membutuhkan tangan-tangan kuat yang mampu mengemban kerasnya tantangan zaman. Hati yang teguh untuk menghadang badai kehidupan. Dan tidak semua zaman menyediakan generasi yang mampu menangkap tali estafet kepahlawanan.

Continue reading

Antara Menasehati atau Memperburuk Keadaan

Ba’da shalat ashar jamaah di masjid, Abi Dyafa kembali mengambil buku yang sejak siang tadi dibacanya. Ayah dan Anak bersamaTidak lama, Mbak Syeina datang merangkul manja disebelah Abinya setelah selesai mengaji di TPA bersama adek Hamka. Pelan-pelan Mbak Syeina membisiki Abi Dyafa “Bi, tadi itu lho, Hamka waktu shalat matanya melirik ke jendela, ndak khusuk shalatnya.” Abi Dyafa yang sedang membaca buku terhenti dan tertarik untuk mendengarkan cerita Mbak Syeina.

“trus…??” Kata Abi Dyafa.

“Aku sudah nasehati dia. Tapi dianya ndak mau nerima.” Lanjut Syeina sambil melirik kearah Hamka yang cemberut menjauhinya.

Sebelum Hamka pergi menjauh, Abi Dyafa memanggilnya. Kemudian Hamka didudukkan disebelah kirinya dan Syeina menggelayut disebelah kanan.

“Nah, sekarang Abi ingin Mbak Syeina dan adek Hamka mendengarkan Abi. Abi ingin berbicara sesuatu.” ujar Abi Dyafa serius. “Mbak Syeina dan Adek Hamka adalah saudara. Anak kesayangan Abi sama Bunda. Dan yang lebih penting lagi, Syeina dan Hamka adalah muslim. Bahkan sebelum dilahirkan dan dikenalkan kepada Abi dan Bunda kalian berdua saudara seiman. Maka sebagai saudara, Syeina dan Hamka hendaknya rukun tidak saling memusuhi. Bahkan hendaknya saling tolong-menolong dalam kebaikan.”

    “Habisnya Mbak Syeina ngolok Adek pas shalat di mushala tadi. Katanya Adek shalatnya nggak khusuk.” protes Hamka kecil, tidak terima.

    “Lho akukan hanya menasehati saja. Setiap muslim wajib saling menasehati lho…” sergah Mbak Syeina.

    “Iya, baiklah. Sekarang coba Adek Hamka dengarkan. Mbak Syeina itu betul. Setiap muslim hendaknya saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Adekkan sudah hafal bunyi ayatnya.” Hamka menganggukkan kepala tanda setuju. “Nah jika demikian, Adek Hamka tidak perlu marah jika ada yang menasehati. Kita seharusnya bersyukur ada yang mengingatkan. Itu tandanya cinta dan sayang. Bahwa saudara-saudara kita yang memberikan nasehat kepada kita itu tidak ingin ada noda salah pada kita” terang Abi Dyafa menenangkan

    “Nah, untuk Syeina, ada adabnya menasehati seseorang. Mau makan saja ada adabnya, apalagi memberi nasehat. Mbak Syeina tidak boleh seenaknya memberi nasehat. Walaupun niat Mbak Syeina baik. Akan tetapi jika caranya salah, hasilnya juga tidak akan optimal.

    “Imam Ibnu Rajab, seorang Ulama besar bercerita tentang seorang ulama sebelum beliau yang bernama Fudhail. Al Fudhail berkata, Seorang mukmin menutup aib saudaranya dan menasehatinya sedangkan seorang pelaku maksiat membocorkan aib saudaranya dan memburuk-burukkannya.

    “Nah, apa yang disebutkan oleh al Fudhail ini merupakan perbedaan antara nasehat dan memburuk-burukkan, yaitu bahwa nasehat itu dengan cara rahasia, tertutupi aibnya. Sedangkan menjelek-jelekkan itu ditandai dengan penyiaran. Oleh karena itu, kalau Mbak Syeina ingin menasehati seseorang, maka carilah tempat yang sepi, lalu bernasehatlah. Namun, saat beramai-ramai, berdiamlah.

    “Sekarang, Mbak Syeina coba buka Al quran surat An-Nur ayat 19.” Syeina lekas melaksanakan perintah Abinya.

    Syeina membuka AL Quran dan, selang berapa lama dibacanya ayat yang ditunjukkan Abinya tadi “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita atau perbuatan yang keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”

    “Subhanallah, bagaimana Allah memberikan balasan bagi orang-orang yang menyiarkan atau menyebarkan berita buruk orang lain. Rasulullah juga melarang kita menyebarkan aib orang lain. Karena jika berita itu salah, maka kita telah melakukan fitnah dan jika benar, maka kita seperti orang yang memakan bangkai saudara kita sendiri. Na’udzubillah…” Abi Dyafa beristigfar yang diikuti kedua anak kesayangannya.

    “Nah, sekarang Mbak Syeina dan Adek Hamka bersalaman, saling memaafkan.” Perintah Abi Dyafa. Kemudian keduanya melakukan perintah dan kembali rukun dalam permainannya.

Poros Dasar Pertemuan…

Keluarga-Dyafa

Keluarga-Dyafa

Hari Ahad, saat Abi Dyafa sedang libur kantor dan sekolah anak-anak juga demikian, seperti biasa keluarga Dyafa menggunakan waktunya untuk kerja bakti membersihkan rumah dan lingkungan sekitarnya. Abi bertugas membersihkan pekarangan dan menguras kolam ikan, mbak Syeina membersihkan rumah bagian dalam dan Bunda Dyafa urusan konsumsi membuat sarapan dan kue-kue. Hanya Hamka yang tidak ikut, sejak pagi keluar tidak ada yang mengetahui.

Menjelang dhuha usai, Hamka tiba dengan sepedanya. Sedang Abi, Bunda dan Syeina menikmati sarapan setelah lelah kerja bakti. Setelah salam, Hamka dipanggil Abi “Adek, kesini. Kamu dari mana tadi? Kenapa koq tidak ijin, dan langsung pergi?”
Continue reading

Hanya Ada di Indonesia (Cerpen)

Ketika makan siang diwarung, sebuah berita tayang di televisi, aku jadi tertarik melihatnya. Acaranya bertajuk, “Hanya Ada di Indonesia”. Wah, ini dia tayangan yang baik yang memunculkan ciri khas negeri kita, pikirku. Harusnya acara serupa digalakkan. Agar kita punya kebanggaan terhadap negeri ini – tidak hanya berita-berita artis. Kalau ndak cerai, putus, trus pacaran lagi, kemudian berkelahi yah, cuma gitu-gitu aja.
Liputan dimulai dari seorang reporter yang tengah berdiri diantara kemacetan yang terjadi di daerah pasar Ciledug, Jakarta. Sang reporter sibuk mencari sumber untuk wawancara. Clingak-clinguk sang reporter mencari nara sumbernya. Pertama kali yang diwawancarai adalah pejalan kaki yang ada disekitar situ. “Pak, apa bapak terganggu dengan kemacetan yang terjadi didaerah ini?”
Continue reading

Pelari…

Perlombaan sudah dimulai. Peserta sudah dilepas tidak kurang dari setengah jam yang lalu. Mereka bersemangat sekali untuk berkompetisi. Nyatanya sejak 5 tahun perayaan tujuhbelasagustus terakhir, memang perlombaan inilah yang paling diminati oleh anak-anak muda di desa. Lari jarak jauh 10 kilometer. Puluhan anak muda antusias utuk menjadi peserta. Entah karena apamereka tertarik ikut dalam lomba lari ini. Bisa jadi karena hadiahnya yang banyak dan menggiurkan, atau karena sudah menjadi seremoni tahunan. Yang jelas, prestisenya terasa sekalin- pemenang selalu dielu-elukan bak idola baru bagi desa.

Perlombaan sudah lebih dari 40 menit sejak peluit lomba dibunyikan, tetapi peserta terakhir baru mendapatkan kurang dari 3 kilometer. Itu tandanya peserta mulai kelelahan. Kita akan segera tahu siapa yang mulai berguguran dalam perlombaan kali ini. Dari puluhan peserta, beberapa darinya menyerah dan berhenti di tengah-tengah. Nafas mereka saling memburu dan keringat bercucuran dengan deras. Mereka kalah. Namun yang tetap berlari masih banyak. Mereka belum menyerah untuk mengejar kemenangan. Continue reading

Follow on Twitter

%d bloggers like this: